House to home

Udah lewat sebulan jadi full mom untuk Gilang dan alhamdulillah kekhawatiran sebelum resign secara keseluruhan aman terkendali. Bosan di rumah? Lewat… Pemasukan gak sebanding sama pengeluaran? Yang penting cukup!

Seperti biasa emaknya Gilang gak mau kehilangan kreatifitas, jadi mulalilah melanjutkan sulaman yang terpending 2 tahun lalu. Tapi mau apa dikata, anaknya lagi banyak mau tau. Jarum-jarum dan benang-benang dipreteli sambil nanya “apa ini ma?”. Okelah… Kristikannya kita tunda lagi sampai waktu yang tidak ditentukan. Serem liat anaknya pegang-pegang jarum.

Cari-cari ide dan aku tertarik dengan macrame. Macrame ini adalah handycraft yang menggunakan tali katun sebagai bahan utamanya atau biasa disebut cotton rope. Bermain simpul atau knot yang dulu dasarnya pernah aku pelajari waktu disekolahan. Dan aku baru ingat dulu waktu sekolah pernah buat tas rajut yang sekarang entah kemana.

Ini dia curtain door, lumayan kan buat pemula…

Ada lagi dream catchers yang aku selesaikan dalam waktu 3 jam! Dan aku puas kali dengan hasilnya…

Aku juga buat pot gantung biar rumahnya jadi ala ala bohemian design. Seru buatnya…

Sekarang aku malah doyan buka-buka instagram untuk cari inspirasi dekorasi rumah. Gak pengen ala ala shabbychick, justru pengennya ala ala bohemian atau scandinavian yang diisi dengan banyak tanaman.

Tiap weekend alhamdulillah gak minta ke mall lagi, malah minta ke lapak tanaman. Kemudian punya ide lagi buat bisnis yang menyatukan antara macrame dan tanaman. Ntar kalo udah mulai ada titik terang aku ceritain lagi lah…

*sedang bersemangat*

Advertisements

Refreshing cara saya

Benarkah seorang ibu memerlukan me time? Ada banyak artikel yang menjelaskan bahwa seorang ibu memiliki tingkat stress yang tinggi, jadi memerlukan refreshing, diantaranya adalah dengan cara me time. Apa sih me time itu? Sepengetahuanku, me time adalah meluangkan waktu untuk memanjakan diri, bisa dengan cara ke salon atau ngopi-ngopi cantik dan chit chat bareng teman teman tanpa diganggu oleh urusan rumah tangga, yang termasuk di dalamnya ngurus anak.

Apa ia me time bisa buat kita kembali segar? Buat aku pribadi meninggalkan anak untuk me time adalah hal yang berat. Bisa dibayangkan, bukannya refreshing aku malah akan kepikiran terus, apakah si anak sudah minum susu? bagaimana kalau dia terbangun dari tidurnya dan gak melihat aku? apakah dia nangis? bisakah yang mengasuhnya meredakan tangisnya? akan ada banyak pertanyaan muncul di benakku.

red

maroon hibiscus

Ini dia refreshing cara aku. Berkebun! Walau sekarang gak bisa berlama-lama di halaman karena ngerasa kondisi badan gak se-fit sebelum lahiran dulu, tapi 1 jam cabutin rumput di halaman udah cukup buatku. Apalagi proses repoting tanaman dan renovasi taman adalah bagian yang paling aku gemari. Tanaman berbunga, bagaikan mendapatkan bonus di akhir tahun, jadi motivasi dan penyemangat tiap berkebun *kode ke pak bos*.

Minimal seminggu sekali aku berlama-lama di halaman menikmati udara pagi bersama Gilang. Pengennya memperkenalkan kebiasaan berkebun ke Gilang, harapannya dia bisa tumbuh menjadi anak yang mencintai alam, menjadi anak yang bertanggung jawab dengan merawat tanamannya, gak sekedar membeli dan menikmati bunganya sesaat *padahal maksud tersembunyi emaknya adalah biar ada yang bantuin nyiram tanaman tiap sore*.

hibiscus

Hibiscus yang selamat setelah diserang hama

Ini dia kondisi tanamanku yang kemarin sempat gak keurus pasca lahiran. Sekarang sedikit demi sedikit mulai tumbuh kuncup bunganya. Ada beberapa pohon yang ditebang karena satu dan lain hal. Nanti aku akan lanjut cerita tentang hama yang datang hingga harus menyingkirkan beberapa tanaman tapi syukurnya masih lebih banyak yang terselamatkan.

Mari berkebun! *kode keras ke si ayang supaya diizini buat taman belakang* 😀

Proyek Taman Belakang

Halo semuanyaahhh…. Long weekend ini pada kemanaaa? *krik…  krik… krik…*

Baiklah… Aku mau ceritain proyek taman belakang rumah yang aku kerjain sendiri. Iyaa… aku kerjain sendiri…

Berawal dari perasaan kesal dengan tukang taman yang ngerjain taman depan. Kerjaannya nggak jelek kok, tapi tipu-tipunya itu yang aku gak suka. Taman depan yang ukurannya cuma 4×1.5 meter menghabiskan biaya 400.000 aja… Kalau dihitung-hitung dia banyak ambil keuntungan dari tiap item yang dibelinya plus mengurangi item yang seharusnya. Emang salah aku sih kemaren, mempercayakan pembuatan taman tanpa mengawasi. Sekarang karena sering mengunjungi lapak tanaman, jadi tau sela-sela harga sebenarnya… huhuhu… sudah lah…

Waktu pengerjaannya lumayan lama, namanya juga dikerjainnya cuma pas weekend aja, itu juga kalo gak ada undangan atau keperluan lain-lain… hehehe… Tahapannya: mencabut rumput liar (manual biar sampe ke akar-akarnya), menggemburkan tanah, menambah tanah humus, menanam rumput gajah mini.

Menanam rumput gajah mini itu juga ada trik khususnya loh, soalnya gak seperti menanam kembang biasa. Setelah tanah digemburkan dan menambah tanah humus, rumput gajah mini ditanam dengan cara dipukul-pukul pake batu bata biar rata. Agak benyek sih rumputnya, tapi jangan khawatir karena rumput gajah mini sifatnya bandel. Besoknya udah bakalan segar lagi.

Oiya, ukuran taman belakang ini sekitar 3 kali lipat dari taman depan. Mau tau biaya yang dihabiskan? cuma 220.000!! Tanah humus 12 goni yang masing-masing harganya 10.000 dan rumput gajah mini 5 meter yang harga permeternya 20.000. Murahkaannn….

Ngerjainnya emang capek sih, tapi puassss…. Ini fotonya:

Image

ImageNtar kalo rumputnya udah mulai merapat, sedikit demi sedikit akan aku tambahin tanaman yang cantik-cantik biar rame.

Capeknya luar biasa, tapi puasnya setengah mati… hehehe… Tiap pulang kantor pandang-pandangi taman belakang bikin adem gitu loh…

Before and After

Before and After

Udah setahun menempati rumah ini, artinya umur tanaman ini kurang lebih sekitar 6 bulan. Soalnya kami baru bisa buat taman dan teras rumah setelah 6 bulan menempati rumah ini.

Gak begitu banyak perbedaan yang mencolok, soalnya luas taman yang cuma seuprit ini akan seperti semak belukar kalau ditanamin macem-macem dan gak pilih-pilih. Pohon ketapang terlihat lebih gagah dan berdiri bak raja diantara bunga lantana, dayang-dayangnya. Bunga hebras berwarna pink seperti selir-selirnya yang bergantian memunculkan keindahannya (berbunga). Bunga fairy lili berjejer seperti para pengawalnya, sedangkan daun dolar-dolar makin rame menutupi dinding dan gajah mini menutupi tanah mempercantik istana sang raja….

Halah, gini nih kalo kebanyakan nonton drama kolosal Korea :p

Pentingnya ruang terbuka hijau

ImageKemarin menemukan gambar ini di sebuah artikel tentang pemanasan global. Dulu gak begitu ngeh dan peduli dengan isu ini, tapi sekarang setelah merasakan dampaknya, seperti cuaca panas berkepanjangan hingga mencapai 370C dan ketika musim hujan banjir dimana-mana, baru merasakan pentingnya ruang terbuka yang hijau. Beruntungnya Medan belum merasakan banjir separah di Jawa, pohon-pohon gede berumur ratusan tahun *mungkin* masih dibiarkan berdiri tegak di beberapa pinggir jalan kota. Sayangnya beberapa lahan kosong mulai dibangun pusat perbelanjaan dan perumahan. Gak mungkin kita heboh protes sana sini dan merusak rancangan pemerintah untuk pembangunan kota. Jadi bagaimana?

Yang gampangnya, mulailah membuat ruang terbuka hijau dirumah sendiri. Rata-rata perumahan menyediakan lahan untuk dijadikan taman hanya seluas 3x3m. Gak masalah, banyak kok pohon pelindung yang akarnya tidak merusak bangunan dan ranting pohonnya nggak berkesan semrautan. Aku pernah baca artikel yang menyatakan “Setiap orang memerlukan 0.5kg oksigen perhari, sedangkan sebuah pohon pelindung menyediakan oksigen hanya untuk 2 orang perhari.” Jadi makin yakin kan betapa pentingnya pohon pelindung di halaman rumah?

Mari mulai menanam…

ImageKalau aku tanam pohon ketapang di halaman rumah, dan tanam pohon kamboja bali di luar pagar. Tanam 2 pohon sekaligus biar sepanjang hari menghirup udara segar…

Image

Our Garden

Image

penampakan taman depan

Seperti yang aku sampaikan di postingan sebelumnya, saat ini aku lagi heboh-hebohnya berkebun. Biar lahan buat berkebun cuma secuil, tapi tetap aja sejauh mata memandang, di muka atau di belakang, pengennya yang terlihat adalah hijau dengan bunga warna-warni yang semarak, nggak tembok melulu. Prinsip kami bukanlah menciptakan rumah yang berkesan megah dan mewah dengan tembok tinggi dimana-mana, tapi rumah yang hangat dan nyaman, yang membuat penghuninya ingin selalu kembali cepat pulang ke rumah setiap kali berpergian… halah… 😀

Taman depan:

Gerbera/Hebras

Image

Gazania

Image

Balloon Flower / Bunga Lonceng Cina

Image

Untuk bunga lonceng cina, sebenarnya langsung suka begitu lihat warna ungunya. Tapi setelah sadar kalau ini adalah bunga yang sama dengan bunga yang dikasi Kang Chi ke Dam Yeo Wool, aku langsung ngebet cepat minta dibeliin bunga ini 😀

Image

Bunga yang sama di pakai di Gu Family Book

Untuk halaman belakang masih under construction alias dikerjain pelan-pelan dulu… :p

Tapi udah ada beberapa tanaman yang nangkring di belakang:

Pohon Mangga Lok Mai

Image

Dua minggu ditanam langsung muncul bunga, sayang buah yang bertahan tinggal sedikit 😦 *terancam gagal panen*

Petunia

Image

Petunia 3 warna digantung, cantik kan…

Image

Note: ini gambar gak tau kenapa bisa miring, gak ngerti editnya 😦