Selfie-nya Gilang

Dua hari yang lalu papanya Gilang lembur dan emaknya ambil cuti di hari berikutnya, jadilah kami 2 hari berturut turut full di rumah. Jadi berasa irt beneran dah…

Aku buat 2 hari itu rutinitas Gilang seperti dia sama bundanya, mandi pagi setelah itu langsung sarapan dan bobok pagi selama 2-3 jam. Bangun-bangun langsung makan siang, main sebentar dan bobok sore. Jam 5 atau jam 6 sore Gilang bangun dan mandi sore. Setelah mandi Gilang biasanya nyemil atau minum jus sambil nonton upin ipin. Kalau udah banyak tidur di pagi dan sore biasanya Gilang agak susah tidur setelah makan malam. Jadilah emaknya kebingungan kalau udah segala permainan dilakukan dan dia masih kebosanan.

Biasanya mengalihkannya dengan baca buku, tapi kalau gak berhasil juga, jadilah senjata terakhir dikeluarkan, handphone! Gilang lagi doyan dengerin lagu Coldplay yang Hymne for the weekend. Biasanya Gilang bilangnya “apeee… apee… oaa… oaaa…”

Jadi kemaren emaknya membiarkan Gilang pegang hp dalam keadaan terkunci tapi lagu coldplay tetap mengalun kencang. Tanpa tersadar emaknya mulai terlelap dan Gilang bangunin “mamma… mamma…” sambil tepok tepok muka emaknya. Hp ditangan Gilang panas dan aku ambil untuk matiin lagunya. Waktu cek semua program yang nyala, aku menenukan foto selfie Gilang di galery. Loh kok bisa?

Besoknya aku coba lagi kasi hp ke Gilang, ternyata kamera tetap bisa dipakai walau hp dalam keadaan terkunci dengan cara menggeser icon kamera yang ada di sebelah kanan.

Jadilah Gilang selfie lagi di hari berikutnya itu… hhmmm…

Gak tau harus senang atau miris liat anak 1,5 tahun udah lihai pake hp…

Dua hari tanpa Gilang

DSC_0086

Di awal bulan Februari yang lalu, mau gak mau aku harus meninggalkan Gilang bersama Bundanya (Kakak Ipar) karena harus mengikuti acara Gathering di kantor. Sejujurnya gak ada perasaan sedih saat berangkat, malah ngerasa ini saatnya aku refreshing. Kok gitu? Karena udah yakin dan percaya kali dengan Bundanya. Masalah makan dan kebersihan Gilang, soalnya si Bunda juaranya… hohohoho… Berasa jadi emak yang tak berbakti.

Udah 2 tahun berturut-turut gak ikutan acara gathering, walau sudah hampir 10 tahun bekerja tapi ngerasa jadi anak baru disana. Secara aku dari cabang dan udah banyak karyawan yang keluar masuk di kantor pusat, jadi banyak yang gak familiar lagi. Alhamdulillah ada acara ini jadi bisa silaturrahmi.

Selama ditinggal 2 hari, Gilangnya asik-asik aja… Dia gak berasa kehilangan emaknya. Emaknya video call *terimakasih pada teknologi* dianya cuek aja. Emaknya yang gemas berasa pengen peluk, huhuhu…

Semoga masih bisa ikutan acara gathering lagi di tahun mendatang… *emaknya Gilang masih pengen kerja*

Hadiah Penutupan Tahun

image

Gilang yang hampir genap berumur 4 bulan udah pande telungkup! Emaknya yang deg-deg serrrr liat dia belajar telungkup. Takut ada apa-apa, ntah tangannya yang terkilir lah, ntah hidungnya yang ketutup lah, ntah perutnya yang tertekan jadi muntah muntah lah, paranoid kali kan? Tapi kalo gak dibiarin dia gak bakalan belajar dong? Jadilah harus menguat-nguatkan hati supaya gak buru-buru di gendong.

image

Yah, seperti emak-emak pada umumnya, aku mengabadikan momen-momen yang baru itu melalui kamera hp, jadi harap maklum kalo hasil gambarnya pun seadanya 😀

Btw, dulu agak eneg liat emak-emak yang sikit-sikit fotoin anaknya dan posting-posting ke social media. Kesannya heboh kali gitu loh… Ternyata giliran aku yang jadi emak-emak, tingkahnya sama persis. Gak bisa sehari aja gak posting foto anak. Padahal kalo dilihat-lihat fotonya, gayanya kek gitu-gitu aja, kadang-kadang baju yang dipake pun kelihatannya itu lagi… Itu lagi… Tapi selalu ada cerita baru dibalik setiap gambar…

Selamat datang 2016

Terimakasih 2015

Biar dibilang blogger sejati, maka dipenghujung tahun ini aku ingin menuliskan secara garis besar apa-apa aja yang telah terjadi selama tahun 2015 ini. Bisa dibilang banyak kejadian yang bikin hidup aku berubah, yang aku sendiri pun menyadari dan tak pernah terbayangkan akan berubah sedrastis ini.

11892148_10205051972035756_848766802828322969_n

Diawal tahun aku dinyatakan positif hamil. Gimana gak kelewatan girangnya, penantian selama lebih dari 3 tahun dengan segala usaha dan doa akhirnya terwujud. Dari masa kehamilan hingga sekarang entah kenapa membuat aku gak doyan nonton drama. Ada beberapa drama yang aku tonton, tapi yang benar-benar kelar cuma dua judul, yaitu The Snow White Murde Case dan Kill Me Heal Me. Jadi harap maklum aja, kalau biasanya tiap akhir tahun aku ada ngerekap drama yang aku tonton selama tahun tersebut, maka kali ini gak akan ada rekap-rekapan drama. Gak tau, gak doyan nonton drama ini akan berdampak baik atau buruk bagiku, dan belum tau juga tahun depan bakalan nonton drama lagi apa nggak. Soalnya aku masih suka baca-baca forum dan konon katanya akan ada banyak drama bagus di 2016 nanti…. lalala yeyeyeye…

Tepat sehari sebelum hari ulang tahunku, Gilang hadir. Jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri proses kelahiran normal, dan ternyata pasca kelahiran itu lebih besar tantangannya. Mulai dari badan yang ngerasa rapuh, menghadapi Gilang yang masih beradaptasi dengan dunia yang rame ini, dan yang paling mantapnya adalah kami berdua yang masih sama-sama belajar menyusui. Yak, ternyata menyusui tidak segampang yang dibayangkan, sangat menguras banyak waktu dan tenaga. Alhamdulillah yang penting sekarang Gilang tumbuh sehat.

kantor_n

Hari-hariku kini diwarnai dengan tingkah polahnya Gilang. Banyak yang bilang Gilang anak yang sangat pengertian, ngerti dengan situasi emaknya yang kerja dan gak rela nitipin dia dimanapun dengan siapa pun. Gilang aku bawa ke kantor, sulitkah? ada masa-masanya, tapi lebih banyak menyenangkannya. Gilang hanya rewel ketika haus dan ngantuk doang. Bahkan ada situasi dimana Gilang main-main sendiri, capek sendiri, dan tidur sendiri. Tapi ada juga masanya dia manja minta digendong seharian. Bisa dibilang aku lebih banyak menghabiskan waktu buat main-main dengan Gilang dibanding kerjanya :D.

Sejak hadirnya Gilang, perubahan yang gak enaknya adalah aku makin boros. Ada aja alasan buat beli ini itu dan bilangnya “untuk Gilang”. Misalnya beli tas, dompet, yang jelas-jelas karena kelatahan emaknya :p. Tiap hari sabtu atau minggu harus jalan-jalan ke mall buat cuci mata *sembunyiin barang belanjaan* dan makan! Yah, selera makan ku juga makin menjadi-jadi. Badan melar, banyak baju yang telah dihibahkan. Tuh kan, ada alasan lagi buat belanja baju :D.

hutan

Semoga tahun depan rejeki Gilang semakin melimpah, dipermudah menjalani hari-hari, dan semoga emaknya bisa nabung lagi… Yang paling penting, kami yang masih belajar menjadi orang tua ini bisa menjadi orang tua yang terbaik buat Gilang. Amin…

Ibu bekerja, kenapa enggak?

DSC_1022-1

Waktu itu cuti sudah usai, tapi aku belum juga nyari-nyari pengasuh. Si ayang menyerahkan semua keputusan ditanganku, mau resign, cari pengasuh, atau dibawa bekerja. Sebenarnya dari sebelum Gilang lahir pun tekadku sudah kuat untuk membawa Gilang ikut ke kantor. Suasana kantor gak terlalu ramai seperti kantor pada umumnya, banyak ruangan kosong yang bisa disulap jadi tempat Gilang istirahat. Perlengkapan lengkap, ada dispenser, ada kulkas, ada magic jar!

Si mama bulak balik mengingatkan kalau dia bersedia diberi tugas menjaga Gilang selama aku bekerja. Dia yang paling menentang kalo aku sampai resign. Kalau dipikir-pikir emang susah cari kerja seperti aku di jaman sekarang. Kerjanya enak, gajinya enak, karyawannya juga udah kayak keluarga sendiri, bahkan bapak-bapak ini yang menyarankan bawa Gilang ke kantor. Oke, maka pada tanggal 24 November adalah hari pertama gilang ikut ngantor.

mtf_EmgzJ_433.jpg

survey tempat bobok

Sebelumnya kami sudah 2 kali ke kantor buat survei dan diputuskan mushala darurat yang berada di sebelah ruanganku menjadi tempat tidur gilang. Bingung apa yang bisa dijadikan alas tidurnya? gak mau heboh sampe beli box baby, ntar malah makan tempat dan gak ada space buat sholat *sebenarnya alasan utamanya, gak mau keluarin duit banyak :D*. Kemudian si bapak sarankan pake bed cover yang dilipat-lipat, ide bagus!!!

mtf_EmgzJ_445.jpgDSC_1016-1

Taraaa…. Jadilah Gilang 24 jam bersama mamanya. Semoga Gilang happy, mama happy, semuanya happy… Continue reading

Tak tergantikan

image

Belakangan ini sangat susah membangkitkan semangat ngeblog lagi, padahal ada banyak sebenarnya yang mau diceritakan selama hamil hingga lahirnya Gilang. Gilang lahir pada tanggal 4 September 2015 yang seolah menjadi kado ulang tahun emaknya ditanggal 5 September. Oiya, nama baby boy kami yang lucu imut dan menggemaskan kayak emaknya itu adalah Gilang Aulia. Artinya? Maklum aja la ya, emaknya pelupa, ntar kita tanya lagi ke papanya. Soalnya yang kasi nama papanya, emaknya sih langsung oke aja gitu dikasi tau artinya bagus dan namanya juga simpel. Yang penting ntar kalo Gilang udah mulai pinter ngomong dia bisa melafalkan namanya dengan fasih. Harapan kami dengan nama itu, semua yang terbaik menghampiri hidup Gilang. Amin ya nak… *nulis sambil lirik Gilang yang lagi bobok dipelukan*

image

Hari ini bukan kali pertama Gilang dibawa belanja ke kede. Biasanya setelah pilih-pilih ikan, sayur, dan bumbu-bumbunya tanpa banyak cingcong kami langsung pulang. Tapi kali ini aku terjebak percakapan dengan seorang tetangga. Walaupun lumayan habisin waktu tapi buat aku yang biasanya kerja, pergi pagi pulang magrib dan jarang bersosialisasi dengan tetangga, hal ini jadi mengasyikkan. Berasa jadi ibu-ibu tukang gosip kayak di sinetron-sinetron itu..

Percakapan pun dimulai…
Tetangga: “Apa anaknya dek?”
Aku: “Laki laki kak…”
Pembicaraan mulai mengalir. Si kakak kaget aja dengar aku mengasuh anak sendiri tanpa pengasuh dan masak pulak.  “Bukannya harusnya memang begitu?” pikirku. “Bisa mandikan baby sendiri dek?”, katanya. “Bisa kak, belajar ngasuh baby selama 40 hari di rumah mama”. Kemudian iseng-iseng penasaran aku tanya si kakak, “Si adek pengasuhnya diambil dari yayasan ya kak? Berapa gajinya?”. Kemudian jawaban si kakak membuat aku terkejut, “diambil dari kampung kakak, gajinya 2 juta tapi khusus pegang baby aja gak kerjakan kerjaan rumah tangga. Tapi si baby 24 jam dipegangnya”. “Maksudnya?” tanyaku makin penasaran. “Si baby kalau malam tidur sama dia juga. Kan malam yang paling berat kalo baby rewel. Kami pasang cctv dikamarnya. Abang-abangnya yang dua dulu juga begitu…” Oooohhh……

Ok, sekarang aku ngerti kenapa kakak itu tetap cantik berseri sepanjang hari walau punya 3 anak laki-laki yang kelihatannya lumayan aktif. Dan aku lebih memilih wajah kusam kurang tidur karena melihat perkembangan Gilang setiap saat tak tergantikan oleh apapun.

image

Tuh foto di atas, Gilang lebih milih
keluar dari kelambu dan terancam digigit nyamuk demi bisa bobok dipelukan emaknya dan cium aroma ketek yang khas ya nak… 😀

Ada yang baru

Setelah 4 bulan meninggalkan dunia blog, kini aku kembali lagi… syalalala… Kalau dulu-dulu biasanya karena jenuh, kali ini dikarenakan bawaan badan yang gak enak dan suka pusing kalo liat layar monitor. Boro-boro monitor, layar hp aja liatnya juga pusing. Kalo karena gak terpaksa kali demi kerjaan, mungkin kemaren aku lebih milih bobok seharian di kamar. Iya, mungkin ini bawaan adek bayi… ehem… ehem…

Alhamdulillah setelah menunggu 3 tahun 2 bulan, akhirnya aku merasakan hamil. Gejalanya dimulai ketika pulang liburan 10 hari di Bangkok, masa iya mesti liburan 10 hari dulu??? Begitulah… lucu ya… Sekarang udah masuk minggu ke 18 dan badan udah mulai terasa fit walau masih ogah-ogahan kalau diajak jalan ke mall. Ntuh adek bayinya gak suka main ke mall, berbanding terbalik dengan emaknya 😀

Mohon doanya semoga proses hamil ini lancar hingga si adek bayi keluar pada waktunya, semoga kami berdua sehat dan kuat dalam menghadapi persalinan yang diharapkan normal. Perkiraan dokter adek bayi akan hadir di dunia pada tanggal 10 September, tapi harapan emaknya di tanggal 5 September biar ulang tahun kami samaan gituuu… Pokoknya semoga semua yang terbaik menghampiri keluarga kecil kami, amiiinnn….

Teringat mereka yang tersayang

Selalu senyum-senyum sendiri kalo teringat ulah dan mimik wajah kedua keponakanku ini. Lebaran kemarin mereka berkumpul dirumah dan tentu saja membuat rumah yang biasanya sunyi senyap jadi heboh.

Ini dia kejadian yang selalu bikin aku senyum-senyum sendiri kalo teringat mereka.

Suatu kali si dedek Feyi nangis, biasanya karena haus atau karena kegerahan. Dan dengan bijaknya si kak Nisa naik ke atas tempat tidur, tangannya berusaha menggapai dedek Feyi yang berada di gendongan mamanya sambil bilang, “kenapa? sini kak Isya gendong… Ayok sini… Gapapa kok gapapa…” Kejadian ini sontak membuat aku ngakak. Dan si kak Nisa malah kebingungan melihat kami tertawa.

Pernah lagi si dedek Feyi nangis di atas tempat tidur. Si kak Nisa yang sedang berada di sebelahnya langsung berinisiatif untuk menggendong si dedek Feyi sambil bilang, “Dedek Feyi kok nangis? Ayok sini kakak gendong… Ayok… Ayok…” Aku biarkan saja karena pasti akan ada kejadian lucu setelah ini. Benar aja, si dedek Feyi yang hobi menarik apa saja yang bisa digapainya menarik baju cantik dan kembang kak Nisa. Melihat baju kesayangannya ditarik, kak Nisa langsung buru-buru menjauh dan bilang “Jangan ditariiikkk…. nanti lobeeekkk…” dengan alis yang dinaikkan. Lucu liat ekspresi wajahnya….

Ini yang paling lucu. Dedek Feyi yang masih 5 bulan masih suka ngences. Si kak Nisa setiap liat dedek Feyi mengeluarkan ences selalu menjerit histeris sambil berlari mencari tissu dan cepat melapkan tisu itu ke mulut dedek Feyi. Jadi aku kalo lagi gendong si dedek dan males ngambil tissu, aku tinggal manggil kak Nisa dan menunjukkan ences si dedek Feyi. Sukses, si kak Nisa menjerit histeris berlari cepat sambil mencari tissue :))

Kangen sama dedek Feyi dan kak Nisa :’)

Ngomongnya kebalik-balik

Mau ngelanjutin cerita yang disini.

Setelah 4 hari di ICU akhirnya si tante diizinkan dokter buat masuk ke kamar rawat inap. Saat itu kondisinya masih memprihatinkan juga sih, belom bisa ngapain-ngapain tapi udah bisa ngomong walau gak jelas.

Besok tepat 2 minggu si tante menginap di rumah sakit. Kondisinya berangsur-angsur pulih. Sekarang malah udah lancar duduk sendiri tanpa bantuan dari kami. Kemarin bahkan udah kami bantu buat berdiri (kata dokter harus sering-sering di latih) walau sebentar. Kata si tante kakinya masih lemas dan kepalanya sedikit pusing.

Semalam aku nyalakan tivi (baru sadar kalo dikamar ada tivi) dan sengaja aku ambil acara OVJ, tontonan kesukaan si tante. Dan begitu melihat aksi si Sule dan kawan-kawan si tante histeris, “ahaaaaaayyyyyyyyy……..” Kaget, ternyata si tante udah normal kembali, dia udah bisa ketawa… Walau biasanya dia selalu ngakak sampe nangis setiap nonton OVJ.

Selagi iklan, aku keluarkan hape dan aku bilang ke si tante kalo aku mau foto dia dan fotonya akan aku kirim ke kak Eni, kak Mimil, dan Riza. Eh, dia semangat! Segera di rapikannya baju dan rambutnya… Smile… :))

Begitulah, si tante udah ngerti apa aja yang kita bicarakan tetapi sulit untuk berbicara. Sepertinya apa yang mau dibilangnya sudah ada di otak tapi sulit untuk mengucapkannya. Seperti pembicaraan ini:

Tante: “langpu… langpu…”

Medi: “udah, udah medi idupin kok lampunya”

Tante: “langpu… langpu…”

Medi: “ooo… iya, lampu diluar dimatiin sama petugasnya. Udah jam 10 malam soalnya, jam besuk udah abis” *mulai bingung*

Tante: “langpuuuuuuu…. langpu laaa….” *makin gemes*

Medi: “ooo… pulaaaaangggg…. iya ini dah mo pulang.. si papa masih cerita-cerita lagi tu…” *ngakak*

Tante: “jengek!” *gemes sambil senyum-senyum*

Medi: *makin ngakak* “mana ada medi ngejek… Tate pulak ngomong dibalek-balek”

Cerita memuakkan

Suatu hari di ruang tunggu rumah sakit, berkumpul para sanak saudara yang saling bersenda gurau, saling menghibur, dan saling menguatkan agar diberikan kesabaran atas musibah yang ditimpa si tante. Dan di dalam keadaan seperti ini, muncul sebuah cerita:

“Si kakek memberikan batas waktu hingga akhir Juni. Jika tak ada lagi calon yang lain, maka si kakek memutuskan untuk menikahi gadis 26 tahun yang sudah sebulan ini dipacarinya.”

jreng… jreeeng…. jreeeeeeeenggg….

Syarat dari si kakek, calon istri yang dia mau:

  1. Tinggi dan langsing
  2. Berkulit Putih
  3. Wajah manis dan rupawan
  4. Wanita soleha
  5. Gadis
  6. Berumur dibawah 30 tahun

Dimana nyari yang model beginian cobaaaaaaaa?????

Ada lagi muncul sms gelap, diperkirakan berasal dari calon si kakek:

“Bagi anak yang tidak setuju atas pernikahan ini, silahkan angkat kaki dari rumah!”

jreng…. jreeeng…. jreeeeeeeng……

Si papa cuma bisa geleng-geleng kepala. Masih banyak urusan yang lebih penting lagi soalnya.

Cerita memuakkan ini sambungan dari cerita disini