Itazura Na Kiss Love In Tokyo 2

2itazuranakissloveintokyo1Udah lama gak ngereview, tapi karena drama ini benar-benar bikin baper yang gak kelar-kelar, jadilah aku buat reviewnya biar cepat kelar. Drama yang diadaptasi dari manga ini emang juara. Tokoh Kotoko dan Irie yang fenomenal ini udah beberapa kali muncul dengan berbagai versi, tapi yang paling the best aku rasa adalah versi Honoka Miki [Kotoko Aihara] dan Furakawa Yuki [Naoki Irie]. Kalau kalian udah nonton berbagai versinya pasti pada setuju, apalagi di “Itazura Na Kiss Love In Tokyo 2” ini akting kedua tokoh udah sangat klop, chemistrynya dapet, dan menyatu dengan dramanya.

LOVE IN TOKYO 2 ESTRENOSebenarnya pada tahun 2014 aku udah nonton “Itazura Na Kiss Love In Okinawa”, yaitu kisah bulan madu Kotoko dan Naoki di Okinawa yang ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Ternyata cuplikan drama tersebut adalah episode 1 dari kelanjutan drama yang sebelumnya pernah aku buat reviewnya disini. “Itazura Na Kiss Love In Tokyo 2” muncul pada akhir tahun 2014, yang entah kenapa bisa ketinggalan. Kemungkinan karena lagi hamil Gilang dan mood nontonku hilang sekitar setahun lebih.

p9vhsmtp“Itazura Na Kiss Love In Tokyo 2” berkisah tentang kehidupan pernikahan antara Kotoko dan Naoki setelah 6 tahun bersama. Naoki tetap meneruskan cita-citanya menjadi dokter dan Kotoko pun putar haluan menjadi perawat. Naoki tidak ingin perjuangan Kotoko menjadi perawat hanya karena dirinya, tapi karena menolong yang membutuhkan. Di tengah-tengah perjuangan tersebut seperti biasa ada krikil-krikil kecil yang mengganggu pernikahan mereka. Para perawat tergila-gila pada Naoki, apalagi ketika Naoki harus pindah ke Kobe selama setahun untuk melanjutkan cita-citanya menjadi dokter anak. Kotoko merasa dirinya saja yang sangat mencintai Naoki, sedangkan Naoki tidak. Tapi tanpa disadari Kotoko, Naoki sebenarnya sangat cemburu dengan Keita Kamogari [Arata Horii], teman Kotoko sesama perawat yang sangat dekat dengannya.

kinchanchrisTidak hanya kisah Kotoko dan Naoki, disini juga ada kisah Kinnosuke [Yuki Yamada] dan Christine Robins [Noemie Nakai] yang walaupun numpang lewat tapi lumayan menghibur. Di drama yang berjumlah 16 episode ini, diceritakan juga kelanjutan-kelanjutan kisah para tokoh pendukung sebelumnya. Tidak terlihat dipaksakan, semuanya disajikan dengan porsi yang pas, drama ini berhasil membuat kita jauh dari kata penasaran. Tak hanya ada Kinosuke, disini juga ada sedikit kisah Yuko Matsumoto [Kanna Mori] dan Sudo [Masaki Kaji]. Jadi bisa dibayangkan lah berapa banyak tokoh yang terlibat di drama ini, tapi masing-masing karakternya ikonik dan tidak mudah dilupakan.

tumblr_nfdsxbWIWP1tsg6o0o1_1280Yang paling mengasyikkan di drama ini banyak adegan-adegan romantis dan mengharukan khasnya Itazura Na Kiss, Naoki yang terlihat cuek sangat berbeda dengan Kotoko yang boros kata Cinta. Ketika yang terjadi justru sebaliknya, ketika Naoki menunjukkan bahwa sebenarnya dia sangat peduli, disitu penonton berhasil dibuat meleleh… hahaha…

KissuuUntuk ukuran dorama, 16 episode adalah jumlah yang sangat banyak. Kirain bakal membosankan dan terkesan dipaksakan jumlah episodenya karena permintaan penonton. Tapi ternyata sangat menghibur di tiap episodenya. Endingnya sudah bisa dibayangkan seperti apa, tapi eksekusi akhir dari drama ini klimaks. Jadi penasaran, apakah Itazura Na Kiss versi Movie bakalan sebagus ini?

Rate 5/5

Advertisements

18 bulan Gilang

Gak terasa umur Gilang udah 1,5 tahun. Udah lancar jalannya, bahkan sekarang kayak mau lari-larian aja kayak gak pake rem. Jumlah giginya ada 8, 4 di atas dan 4 di bawah. Karena kami lakik binik punya pengalaman pake behel, jadilah aku suka perhatiin gigi gilang, alhamdulillah sejauh ini rapiii… Dia juga gak susah kalo disuruh sikat gigi… Pinter yaaa…

Makin bijak, tiap hari ada aja kosakata baru, yang rata-rata makanan… hohoho… Atii (roti), mimun (timun), nasi, abe dasss (cabe pedas). Semoga doyan makannya gak berenti di selama masa pertumbuhannya. Belakangan ini dia lagi fasih-fasihnya bilang “gak mau” sambil geleng-geleng, gemesin kannn…. semuanya bilang gak mau 😀

Kalo dibilang mau jalan-jalan dia langsung ambil sepatunya sendiri. Lagi bosen dirumah dia langsung ke garasi tepuk tepuk mobil sambil bilang “ambiii…”. Keliatan anaknya doyan ke mall kayak emak bapaknya… huhuhu…

Kalo badannya ada yang gatal dia bilang “amuk adin…” (nyamuk caladin). Masuk kamar udah pintar minta nyalain AC. 

Sementara itu dulu update tentang gilang… ^_^

Abekani VS Dowa

Setelah bertahun-tahun mantengin timeline fb Abekani, akhirnya aku berhasil mendapatkan tas kulit yang fenomenal itu dengan model medium c-bag havana. Kalau pecinta tas kulit lokal pasti gak asing dengan merek ini, karena jualannya hanya via online dan punya stok yang terbatas. Jadi kalau mereka open PO bisa diperebutkan sampe ribuan orang. Masih open PO loh ya… Bukan barang ready stock! Barang ready stock biasanya jumlahnya gak banyak, gak sampe 50 pcs, dan diperebutkan di setiap hari Jumat. Para Abekanian Lovers biasanya menyebutnya dengan barang NL (Numpang Lewat), heboh kannn….

Jadi di sekitar bulan November 2016 yang lalu ada open PO sampe berapa ribu pcs gitu untuk model c-bag, jadilah si kakak yang duluan masuk ke Abekanian Lovers berhasil mendapatkan slot untuk aku. Jadi sodara-sodara, tas tersebut baru jatuh ketanganku 2 hari lalu! di bulan Maret 2017, luar biasaaa… Ini penampakannya…

20170321_061136 (Large)

Abekani C-Bag Medium Havana

Pengen bandingin dengan tas kulit lokal yang sama-sama berasal dari Jogja, Dowa. Dowa adalah tas kulit pertama yang aku punya. Berbeda dengan Abekani, Dowa gak ribet dapatkannya. Tokonya sudah ada dimana-mana, kalau mau beli online juga bisa disini. Sebenarnya Dowa lebih concern ke tas rajut, cuma mereka juga punya produk kulitnya, Jadi sebenarnya lebih recomended beli langsung ke showroomnya kalau kebetulan lagi jalan-jalan ke Jogja. Berikut tas Dowa aku yang kemaren titip beli sama emak yang kebetulan ke Jogja. Gak tau namanya model apa karena setelah aku cek ke webnya, model ini gak ada lagi. Model Dowa lebih bervariasi, tiap tahun ada aja model baru.

20170321_061219 (Large)

Dowa Purple

Dari segi kuantitas, tas Dowa lebih berat. Mungkin karena aku ada campuran rajutnya. Tas Abekani jauh lebih ringan, padahal jenis kulitnya pull up. Pengkait long strapnya lebih eksklusif Dowa, karena ada tulisan Dowa di tiap kaitan dan resletingnya. Untuk kerapihan, jauh lebih rapi Dowa karena jelas pembuatannya handmade dan lebih detail. Kalau yang pernah beli tas Dowa pasti akan menerima kartu yang berisi cara perawatan Dowa, dan diakhiri dengan slogan “Rawat Doa-mu seperti kami menciptakannya dengan sepenuh hati”.

Antara Dowa dan Abekani, aku ngerasa masih lebih juara Dowa. Ada rupa ada harga, tas kulit Dowa semuanya di bandrol di atas sejuta, sedangkan Abekani rata-rata masih dibawah sejuta.

Sejujurnya masih pengen bandingin dengan Berliano, penghasil produk kulit lokal dari Jogja juga. Aku punya (suami punya deng) 2 produk Berliano yang keren dan terasa sangat istimewa karena emboss batiknya. Tapi rasanya gak fair kalo gak bandingin dengan produk tasnya. Semoga bisa berjodoh dengan tas Berliano… Amin…

 

Dua hari tanpa Gilang

DSC_0086

Di awal bulan Februari yang lalu, mau gak mau aku harus meninggalkan Gilang bersama Bundanya (Kakak Ipar) karena harus mengikuti acara Gathering di kantor. Sejujurnya gak ada perasaan sedih saat berangkat, malah ngerasa ini saatnya aku refreshing. Kok gitu? Karena udah yakin dan percaya kali dengan Bundanya. Masalah makan dan kebersihan Gilang, soalnya si Bunda juaranya… hohohoho… Berasa jadi emak yang tak berbakti.

Udah 2 tahun berturut-turut gak ikutan acara gathering, walau sudah hampir 10 tahun bekerja tapi ngerasa jadi anak baru disana. Secara aku dari cabang dan udah banyak karyawan yang keluar masuk di kantor pusat, jadi banyak yang gak familiar lagi. Alhamdulillah ada acara ini jadi bisa silaturrahmi.

Selama ditinggal 2 hari, Gilangnya asik-asik aja… Dia gak berasa kehilangan emaknya. Emaknya video call *terimakasih pada teknologi* dianya cuek aja. Emaknya yang gemas berasa pengen peluk, huhuhu…

Semoga masih bisa ikutan acara gathering lagi di tahun mendatang… *emaknya Gilang masih pengen kerja*

Drama ART

619611310

bukan ART

Emaknya Gilang gak kuat hidup tanpa asisten rumah tangga (ART). Ada berbagai ART yang singgah di dalam kehidupan kami, dan kalau diingat-ingat sekarang menjadi kisah yang lucu. Padahal saat menghadapinya dulu bikin darah tinggi.

ART yang pertama ini hingga sekarang setia bersama kami. Segala sesuatu kelar dia kerjakan kurang dari 2 jam. Hebat kan? Mungkin karena si kakak dalam sehari bekerja di 3-4 tempat, jadi dia harus bagi-bagi waktu. Kalau ada yang gak beres kita mesti peringatkan dan segera dia bereskan. Tapi ya begitu, kita mesti rajin-rajin dan teliti melihat kebersihan setiap sudut rumah.

Berdasarkan pengalaman bersama si kakak, kami mencoba peruntungan mencari ART yang bisa menginap dirumah. Bukan, bukan untuk sekalian ngasuh Gilang, tapi pingin semuanya beres hingga urusan makanan. Jadi emaknya Gilang begitu sampe rumah pinginnya tinggal makan trus langsung tidur gitu lohhh… Gak perlu mikirin piring numpuk di dapur, hohohoho… Jadilah ada 3 ART lagi yang pernah singgah.

  1. Sebenarnya dibilang ABG juga nggak, karena umurnya sudah berumur 25 tahun dan janda beranak 1 pula. Bilangnya bisa masak sambel goreng dan rebusan doang. Ok gak masalah, ntar bisa diajarin. Dan drama pun dimulai… Disuruh masak air, air yang sudah masak di ceret dimasak lagi. Ok, mungkin belum ngerti kalo air mentah bisa diambil dari kran. Disuruh masak telur sambel, 10 telur di rebus dan dia bilang busuk semua. Setelah di cek ternyata dia kurang lama rebusnya, dan hampir semua telur terbuang. Fix dua hari kemudian di kembalikan ke rumah orang tuanya. Soalnya emaknya Gilang yang waktu itu masih labil megang Gilang yang masih umur 3 bulan setres berat ditambah udah mikirin mau masuk kerja lagi…
  2. Kali ini setelah pencarian selama 2 minggu keliling kampung sebelah, dipertemukanlah kami dengan nenek-nenek. Semua kerjaannya beres dan orangnya juga pembersih. Tapi 2 hari kemudian anaknya jemput suruh pulang karena cucunya gak bisa tidur dan nangis terus.
  3. Jodoh yang ketiga bersama nenek-nenek lagi. Neneknya pembersih, masakannya juga enak. Tapi gak bisa nginap karena masih punya anak gadis yang masih sekolah. Jadilah si nenek datang subuh, pulangnya katanya sore. Soalnya kalau pulang gak pernah ketemu. Si nenek bertahan selama 6 bulan walau kami tau dia ngutil-ngutil beberapa yang ada di rumah. Mungkin si nenek gak tahan tiap hari harus datang subuh, jadi tepat setahun umur Gilang, dia gak balik lagi. Izinnya sih mau ke Malaysia jenguk anaknya yang disana. Jadilah kami kembali ke kakak ART yang pertama.

Dalam pencarian ART ini aku maju mundur mau resign. Kali ini akan muncul drama baru lagi, karena aku mulai mikir resign lagi… huhuhu….

 

Persiapan ke Hongkong 1

Sejak tiket berada di tangan, sebenarnya hampir tiap hari aku ngacak-ngacak google. Gak ada yang dikhawatirkan sebenarnya selama si ayang berada di samping *eciyee..*. Cuma ya gitu, karena liburan kali ini bawa anak mudanya yang belum genap 2 tahun, jadinya semuanya harus diperhitungkan, dimulai dari kondisi cuaca yang mesti di-matching-kan sama busana, makanan yang konon katanya susah susah gampang dapet yang halal, sampe urusan penginapan yang dekat stasiun + bersih + nyaman.

Perjalanan Kualanamu-Hongkong dan sebaliknya memakan waktu 7-8 jam dengan transit Kuala Lumpur. Ini adalah perjalanan pertama Gilang naik pesawat dan perjalanan kami yang paling lama. Maka dari itu, emaknya mesti memikirkan hal sekecil apapun. Untung aja kemaren langsung kepikiran untuk pesan bagasi pulang pergi dan pesan makanan pesawat juga, padahal dulu waktu masih berdua gak perlu bagasi. Kalau singgah di KL artinya harus siapkan budget buat tukar Ringgit juga.

Sekitar bulan lalu kami sudah booking penginapan. Selama di Hongkong kami rencananya menginap di Causewaybay Inn. Causewaybay berada di Hongkong Island, kemana kaki melangkah kita akan menemui pusat perbelanjaan. Astagaaahhh… Aku merasa dimanjakaaannn…. hahaha…

Causewaybay inn - Masjid Ammar

Causewaybay Inn to Masjid Ammar

Sebenarnya, alasan utama kami memilih penginapan di Causewaybay Inn karena dekat dengan Mesjid, artinya ada banyak makanan halal di sekitar situ. Untuk akses kemana-mana, tepat di depan Causewaybay Inn ada stasiun tram yang bisa mengantar kita keliling Hongkong Island dengan biaya murah meriah, jauh dekat 2.30 HKD! Mau ke stasiun MTR atau halte bus juga dekaattt…

Awalnya kami ingin memilih Morrison Boutique Hotel yang ada banyak di sekitar situ yang harganya sama, hanya saja khawatir tempat tidur yang disiapkan ukuran 5 kaki seperti pengalaman menginap di Boutique Hotel di Singapore. Di Causewaybay Inn kami memesan 1 kamar yang berisi 1 tempat tidur double dan 1 tempat tidur single dengan kamar mandi di dalam. Kalau melihat berbagai review di tripadvisor, mudah-mudahan kami tidak salah memilih penginapan. Fasilitasnya juga lengkap, tidak kalah dengan fasilitas Boutique Hotel yang lain.

Jika ada perubahan jadwal penerbangan yang biasanya sering terjadi di maskapai AirAsia, rencananya kami menginap 1 malam di Macau. Ya Allah, semoga ada perubahan jadwal sehingga kami bisa berangkat sehari lebih awal untuk menginap di Macau, Amiiinnn…

 

Postingan ke 5 di 2016

Halooowww…. Aku muncul lagi disini dan kaget aja lihat pencapaian di tahun ini. Cuma ada 5 tulisan! luar biasa. Dan lebih parahnya lagi gak ada review drama sama sekali. Sebenarnya rutinitas nonton drama masih sering dilakukan, tapi entah kenapa, nulisnya itu loh… malesss… Ia, males emang gak ada obatnya kalau bukan dari diri sendiri.

Hampir setahun terbengkalai tiba-tiba aku teringat akan blog ini. Karena apa? Karena facebook dan twitter di block, gak bisa dibuka dari kompie kantor! hahaha… Mungkin ini sudah menjadi takdir kalau aku harus mulai nulis lagi disini. Baiklah, aku cerita yang terjadi di hampir setahun belakang ini aja.

dsc_3206

Umur Gilang sekarang udah 1 tahun 3 bulan 18 hari. Udah pinter jalan, ngomongnya mulai jelas dan makin menggemaskan. Pipinya tembem kayak emaknya, kulitnya putih dan matanya lentik kayak bapaknya, tapi gak tau bijaknya kayak siapa, hahaha… Udah mulai suka banyak tanya-tanya, “tu apa? tu capa?” sambil tangannya nunjuk-nunjuk kesana kemari. Alhamdulillah kalau udah liat makanan matanya melotot sambil nelan-nelan ludah berharap disuapin, dikasi apa aja masuk, sambil bilang “nyam nyam nak”.

Sejak umur 1 tahun 2 minggu gilang gak dibawa lagi ke kantor, karena pinggang emaknya gak kuat ngejar dia kesana kemari. Jadi setelah menimbang sana sini dan buat kesepakatan dengan papanya, selama kami ngantor gilang di titip ke kakak papanya. Awalnya berat sih, dikantor sering berhalusinasi dengar suara gilang, tapi anaknya malah anteng aja disana kayak gak ada kejadian apa-apa. Nangis ditinggal ngantor cuma 2 hari pertama aja. Kelihatan dia lebih bahagia dan teratur, ada jam makan, tidur, dan main.

Masih betah aja kerja? masih betah lah… soalnya emaknya gilang doyan belanja online, makan-makan, dan jalan-jalan, jadi mungkin nanti ada waktunya bisa duduk manis aja dirumah. Selagi jarak antara kantor papanya, emaknya, dan tempat gilang dititip dekat, bisa ditempuh dalam waktu 5-10 menit, keadaan seperti ini mungkin yang terbaik.

Bicara tentang belanja online, emaknya gilang lagi hobi dekorasi-dekorasi rumah. Tiada hari tanpa buka-buka pinterest buat cari-cari referensi. Paling hobi belanja produk IKEA *bukan iklan*. Berhubung IKEA cuma ada di Jakarta, mau gak mau harus belanja online. Belanja dimana? berapaan ongkirnya? gak pake ongkir loh… Belanjanya di Dekoruma, gratis ongkir! ayo buk ibuk boleh dicoba loh… *bukan iklan lagi*.

Untuk urusan jalan-jalan, setelah traveling terakhir ke Bangkok di tahun 2014, akhirnya tahun depan di 2017 kami mau traveling ke Hongkong. Yaayyy… Dan kali ini bersama Gilang, memanfaatkan ongkos gratis sebelum gilang umur 2 tahun. Semoga semuanya dimudahkan ya… Amiinnn…

Ok, sampe disini dulu ceritanya. Doakan besok-besok aku rajin coret-coret disini.