Hongkong-Macau, 10-14 Agustus 2017

Terakhir liburan keluarga yang benar-benar liburan itu di Desember 2014, dan sekarang liburannya nambah 1 anggota, si anak bayi kami GILANG! Udah kebayang lah ya gimana hebohnya bawa anak bayi. Kamera pocket emaknya mesti disingkirkan, toh gak akan sempat foto narsis dengan berbagai gaya. Cukup kamera hp aja.

DAY 1

Jam 5 pagi anaknya udah dipaksa bangun dan mandi, untungnya gak pake rewel karena di malam malam sebelumnya udah bisik bisik ke si anak kalo kita mau jalan jalan naik pesawat. Gak tau dia emang ngerti apa nggak, tapi ni anak sepanjang jalan anteeeng kaliii…

Baru sampe bandara Kualanamu udah ada drama kelebihan bagasi, padahal di hari sebelumnya aku protes ke papanya Gilang karena dia salah beli bagasi. Bagasi pergi 20 kg bagasi pulang 40 kg, “untuk bagasi aja kita abis 1 juta” protesku setelah print itinerary dan invoice dari airasia di hari sebelumnya. Nyatanya adegan pindah-pindahkan barang harus dilakoni di bandara, dari kopor yang satu ke kopor yang lain, jadilah 7 kg di kabin 22 kg di bagasi (dikasi dispensasi 2 kg, alhamdulillah!)

Perjalanan berjalan lancar, sekitar jam 8 malam kami tiba di Hongkong. Begitu ambil bagasi kami dikejutkan dengan kondisi kopor yang sudah tak bergembok lagi, isinya berantakan. Syukurnya gak ada barang yang hilang. Gak tau insiden buka paksa kopor ini terjadi di Kualanamu atau di KLCC2. 

Perjalanan dari HKIA ke penginapan dengan bus pun lancar jaya gak pake kesasar. Hongkong emang negara dengan banyak pilihan transportasi yang memudahkan wisatawan.

DAY 2

Rencana hari ini berubah dari itinerary, kita mau langsung ke Macau aja biar hari terakhir bisa bebas belanja dan explore sekitar penginapan yang tepat berada di depan timesquare. Tapi tetap aja, kami gak maksain Gilang, nungguin dia bangun tidur dulu baru bisa mulai gerak. Jam 9 Gilang bangun dan jam 10 lewat baru keluar penginapan. Jadilah berangkat ke Macau dengan turbojet jam 11.50. Ok lah… tak apa…

Hari jumat di Macau, artinya harus nyobain sholat jumat di negri orang. Semacam jadi kewajiban bagi kami mengunjungi mesjid di luar negeri, mau lihat bagaimana muslim di negara lain. Udah googling masjid yang ada di Macau selagi nungguin Gilang bangun, cuma masih buta jalan menuju kesananya.

Tiba di Macau, ada banyak selebaran peta disana. Untungnya di peta ada gambar mesjid yang satu-satunya di Macau itu. Terlihat dekat dan bisa di tempuh dengan jalan kaki, tapi lumayan juga jalan kaki hampir 30 menit mengelilingi water reservoir. 

Khotbah sudah dimulai, papanya langsung ambil wudhu dan aku duduk manis sambil merenungi betapa beruntungnya tinggal di Indonesia, kemana kaki melangkah ditemukan mesjid. Sedangkan di Macau hanya ada mesjid itu, semua muslim di penjuru Macau kumpul di mesjid itu tiap jumat. Hingga sudah masuk rakaat kedua pun masih banyak yang datang berlarian, mungkin karena keterbatasan waktu.

Sehabis jumatan ada makan bersama, beruntung kami bisa hemat waktu cari makanan halal dan hemat uang juga. Lumayan loh, dibekali juga buat makan malam.

Dari mesjid kami kembali ketempat kedatangan tadi, karena dari situ ada bus gratis ke Venetian. Ramenya Venetian luar biasa, kami cuma foto-foto sebentar kemudian cari egg tart yang katanya halal dan fenomenal dengan merek Lord Stow’s. 

Dari Venetian ke City of Dreams yang isinya lagi lagi seperti mall. Kalo nggak ada rencana nonton pertunjukan Dancing in the water yang harga tiketnya 500ribu per orang kalau di rupiahkan, mending skip aja ke tempat ini.

Kami lanjut ke Senado Square. Mungkin karena hari sudah malam, aku gak merasa begitu istimewa. Hanya beberapa bangunan kuno yang dipenuhi lapak jualan makanan pork kering (seperti dendeng) dan minuman. Jalan ke dalam sekitar 15 menit ada Ruin’s St Paul.

Saat buat itinerary aku udah ngerasa kalau ke Macau harus nginap, apa dikata kami udah terlanjur booked penginapan di Hongkong, jadilah semuanya serba buru buru. Kami harus mengejar turbojet pulang jam 22.50. Kurang menikmati Macau, waktu banyak dihabiskan dengan jalan kaki.

Day 3

Sepulang dari Macau kami tiba di penginapan jam 1 lewat tengah malam. Jadilah paginya Gilang bangun jam 11. Hari ke 3 kami rencana nyantai aja, ke mesjid Ammar yang dekat dengan penginapan sekalian makan siang di kantinnya dan ke The Peak.

Gak nyangka kalau tram menuju The Peak pake acara ngantri sampe 2 jam lebih! Hari panasnya bukan main lagi! Sangat bersyukur Gilang bisa diajak kompromi. Lumayan di The Peak ada jual oleh oleh murah meriah. Direkomendasikan kalo beli oleh oleh souvenir mending disini aja. Setelah lihat pemandangan malam kota Hongkong dari ketinggian yang ramenya bukan main, kami langsung balik naik bus dan pake ngantri berjam-jam juga! Tiba di penginapan udah jam 11 malam aja…

Day 4

Tobat ngantri, sebelum jalan kami googling Ngong Ping. Ternyata gak jauh beda, mau naik Cable car bisa ngantri sampe 3 jam katanya. Sudah lah, kami belanja aja ke Citygate. Tapi sebelumnya kami lihat-lihat times square yang lagi lagi isinya tempat belanja semua.

Sebelum bertualang wajib isi perut dan bawa bekal, singgahlah kami di Ebeneezer’s Kebab & Pizza yang katanya salah satu makanan yang wajib dicoba.

Di Citygate banyak jual barang branded yang harganya nyungsep, tapi yah… tetap aja gak terbeli, karena masih jauh diatas standart kita bokkk… Tapi lumayan, disini kami berhasil beli 2 pasang sepatu Timberland buat aku dan papanya Gilang yang masing-masing harganya gak nyampe sejuta. Kalo di Indonesia udah 3 juta sepasang lohhh… 

Beli setengah lusin body butter bodyshop yang harganya cuma sekitar 350 ribu, bedak yang biasa aku pakai juga setengah harga dari di Indonesia. Belakangan baru tau kalau bodyshop lagi promo ulang tahun, tapi tetap aja jauh lebih murah harga di Hongkong. Dan aku nyesal gak ambil parfumnya yang cuma 120 ribu, kemaren ngecek di centre point Medan biar udah diskon harganya 335 ribu.

Dari Citygate langsung balik ke penginapan, makan malam di Aladin Mess yang berada di times squares, setelah itu lagi lagi belanja Uniqlo yang tokonya berada di belakang penginapan.

Day 5

Dari penginapan ke bandara kami naik bus. Bisa dibayangin yah jalan menuju tempat pemberhentian bus sekitar 20 menit, kami bawa 3 kopor dan sambil dorong stroller Gilang. Benar-benar perjuangan! Soalnya udah coba cek, kalau naik uber dari penginapan ke bandara kena 700 ribu aja… Gak rela!

Kalau gak sempat belanja, di HKIA juga banyak tempat belanja yang harganya lumayan murah. Kami beli kaos Bellagio buat para keponakan yang harganya sekitar 70 ribu. Lumayan kannn…

Alhamdulillah pulangnya gak ada drama kelebihan bagasi lagi walau kopor beranak. 

Pengalaman ke Hongkong ini mirip saat kami ke Bangkok pertama kali, kurang menikmati karena daerah wisatanya gak sesuai harapan. Terlalu ramai dan ngantri. Semoga lain waktu diberi kesempatan kembali ke sini buat menikmati lingkungan dannn belanjanyaaa…  Gak nyangka hampir semua yang berada di Itinerary dijalani. Anak bayinya emang juara… 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s