Ibu bekerja, kenapa enggak?

DSC_1022-1

Waktu itu cuti sudah usai, tapi aku belum juga nyari-nyari pengasuh. Si ayang menyerahkan semua keputusan ditanganku, mau resign, cari pengasuh, atau dibawa bekerja. Sebenarnya dari sebelum Gilang lahir pun tekadku sudah kuat untuk membawa Gilang ikut ke kantor. Suasana kantor gak terlalu ramai seperti kantor pada umumnya, banyak ruangan kosong yang bisa disulap jadi tempat Gilang istirahat. Perlengkapan lengkap, ada dispenser, ada kulkas, ada magic jar!

Si mama bulak balik mengingatkan kalau dia bersedia diberi tugas menjaga Gilang selama aku bekerja. Dia yang paling menentang kalo aku sampai resign. Kalau dipikir-pikir emang susah cari kerja seperti aku di jaman sekarang. Kerjanya enak, gajinya enak, karyawannya juga udah kayak keluarga sendiri, bahkan bapak-bapak ini yang menyarankan bawa Gilang ke kantor. Oke, maka pada tanggal 24 November adalah hari pertama gilang ikut ngantor.

mtf_EmgzJ_433.jpg

survey tempat bobok

Sebelumnya kami sudah 2 kali ke kantor buat survei dan diputuskan mushala darurat yang berada di sebelah ruanganku menjadi tempat tidur gilang. Bingung apa yang bisa dijadikan alas tidurnya? gak mau heboh sampe beli box baby, ntar malah makan tempat dan gak ada space buat sholat *sebenarnya alasan utamanya, gak mau keluarin duit banyak :D*. Kemudian si bapak sarankan pake bed cover yang dilipat-lipat, ide bagus!!!

mtf_EmgzJ_445.jpgDSC_1016-1

Taraaa…. Jadilah Gilang 24 jam bersama mamanya. Semoga Gilang happy, mama happy, semuanya happy…

Advertisements

2 thoughts on “Ibu bekerja, kenapa enggak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s