Menginjak Bumi Khatulistiwa

Sebenarnya perjalanan kali ini tidak murni buat jalan-jalan atau refreshing, tapi menemani si emak untuk menjemput adik ipar yang tengah hamil 5 bulan. Sambil menyelam minum air, hal ini dimanfaatkan si emak buat belanja-belanja jualannya pada saat transit. Sebenarnya pada saat berangkat aku sungguh sangat tidak bersemangat karena harus meninggalkan si ayang selama 10 hari, padahal kalau dia ikut, perjalanan selelah apapun pasti akan dilalui dengan semangat *sudah diprediksi perjalanan ini akan sangat melelahkan*

Ibarat sayur tanpa garam kurang enak kurang sedaaapppp…. *eh malah dangdutan* aku bawa kamera tanpa batre, alhasil diperjalanan ini tak ada foto narsis!

5 hari pertama kami berada di Jakarta, sesuai rencana selama disana kami mengitari beberapa pusat perbelanjaan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Pontianak, yang hanya memakan waktu  satu setengah jam dari Jakarta. Setiba disana aku disambut oleh cuaca panas. Jelas saja, kota ini dilalui oleh garis khatulistiwa. Di bandara Supadio kami disambut oleh kata-kata “Selamat datang di bumi khatulistiwa.”

Suasana kota masih asri dikelilingi banyak pepohonan. Kalau kata si emak, kota ini seperti kota Medan 20 tahun yang lalu. Hanya ada rumah-rumah penduduk yang sederhana, kantor-kantor pemerintahan terlihat megah dengan arsitektur khas Kalimantan, bangunan ruko bisa dihitung dengan jari jumlahnya dan aku tidak melihat gedung perkantoran yang menjulang tinggi.

Datang ke sini aku sudah mempersiapkan perut agar menerima makanan ala kadarnya. Dan benar saja, kami makan siang di sebuah rumah makan Padang yang sangat ramai pengunjung sampai pake antri, tapi ternyata menu yang disajikan biasa aja. Tetap Medan juaranya.

Jam 7 malam kami melanjutkan perjalanan ke Sintang dengan bus, salah satu kabupaten di Kalimantan Barat yang kata si Riza adalah kabupaten terbesar. Perjalanan yang biasanya dilalui 8 jam, kami lalui selama 11 jam! Jalanan rusak parah di lintas Klimantan ini ternyata sudah sangat terkenal seantero Nusantara. Sudah sangat sering disorot media tapi pemerintah belum juga merealisasikan perbaikan jalan. Menurut informasi, persatuan suku Dayak se-Kalimantan sampai duduk bersama untuk memecahkan masalah jalan rusak ini.

Jam 6 pagi kami tiba di Sintang. Sangat bersyukur kami tidak perlu melanjutkan perjalanan lagi jauh ke dalam perkebunan. Sesampai di rumah badan pegal dan perut terasa mulas karena terlalu banyak bergoyang di dalam bus. Selama 2 hari disana aku hanya menghabiskan waktu buat tidur dan nonton tv karena cuaca yang sangat panas. Di hari ketiga aku baru bersedia keluar rumah untuk melihat keadaan kota, apalagi besoknya sudah harus kembali ke Pontianak.

Ternyata Sintang tidak seburuk yang dibayangkan. Kota ini dikelilingi oleh sungai Kapuas, mengingatkan aku akan sungai Chao Phraya di Bangkok.  Sungai Chao Phraya memang tidak sebanding panjangnya dengan sungai Kapuas, yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Yang persis sama adalah sungai ini dimanfaatkan sebagai sarana transportasi. Kalau dipinggiran Chao Phraya ada beberapa kuil, dipinggiran Kapuas ada Kesultanan Melayu. Salah satu yang kami kunjungi adalah Kesultanan Sintang. Sayang, kesultanan ini tidak dijaga kelestariannya. Rumput terlihat dibiarkan tumbuh tinggi di halaman kesultanan. Dibeberapa bagian bangunan juga terlihat kusam, lebih parah dari Istana Maimun *sangat menyesal tidak mengabadikannya*

Hari sudah mulai larut, diperjalanan pulang aku melihat bukit yang menjulang tinggi. Kata Riza itu adalah bukit Kelam, yaitu sebongkah batu raksasa yang sering diklaim sebagai batu terbesar di dunia. Dari tempat kami menuju bukit Kelam memakan waktu 45 menit. Karena sudah gelap, kami tidak singgah.

Sangat riskan membawa ibu hamil melakukan perjalanan dari Sintang ke Pontianak dengan bus. Maka diputuskan naik pesawat. Hanya ada 2 armada yang beroperasi dan salah satu armada pun tidak beroperasi setiap hari. Kedua armada ini lebih kecil dari pesawat biasa, hanya berpenumpang 40 orang. Jadi bisa dipastikan bagaimana tidak besahabatnya harga tiket. Harga tiket pesawat 5 kali lipat lebih mahal dibanding tiket bus. Jika tidak diambil jauh-jauh hari, dalam keadaan mendesak, harga tiket pesawat bisa 2 kali lipat dari harga normal, yang berarti 10 kali lipat dari harga tiket bus. Ckckck…

Bandara udara di Sintang lebih mirip kantor kecamatan di Medan, sangat kecil dan sumpek. Dalam waktu 45 menit kami tiba di Pontianak dan menginap di sebuah hotel bintang 3 yang kebersihannya patut diacungin jempol. Soalnya kata Riza agak sulit mendapatkan hotel bersih disini untuk ukuran hotel seperti ini. Asyiknya lagi hotel ini dekat dengan pusat perbelanjaan oleh-oleh. Memang hanya sederet penjual oleh-oleh, tapi cukup lengkap. Aku memboyong minuman dan jelly yang terbuat dari lidah buaya, dodol berbagai rasa (ketan hitam, labu, pepaya, pandan, durian), dan snack talas khas Pontianak. Ada batu perhiasan, batik, dan tameng ukir yang terkenal itu, tapi harganya mahaaaallll….

Sepulang dari belanja oleh-oleh aku berniat mengunjungi tugu Khatulistiwa, tapi ternyata tugu Khatulistiwa itu letaknya jauh dari tempat kami menginap. Mengingat besok masih harus melanjutkan perjalanan panjang dari Pontianak ke Medan (transit Jakarta lagi dan menunggu beberapa jam) maka diputuskan balik ke hotel, dan bobok manis.

Advertisements

2 thoughts on “Menginjak Bumi Khatulistiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s