[QN ala Tobie] Wanita ditakdirkan jadi IRT?

[QN ala Tobie] Wanita ditakdirkan jadi IRT?

Advertisements

28 thoughts on “[QN ala Tobie] Wanita ditakdirkan jadi IRT?

  1. Kalo QN kali ini lolos, berarti ini adalah QN ala Tobie yang ke 7 dan artinya ini adalah QN ala Tobie yang terakhir…. horeeee…. akhirnya selesai juga…. *loncat-loncat diatas kursi*Hari ini aku dikejutkan dengan resign-nya salah satu certifier kami. Di TRID ini, certifier cuma ada 2 yaitu pak AQ dan bu IA. Certifier ini adalah mereka yang memutuskan apakah sebuah perusahaan layak atau tidaknya dapet sertifikat. Tentu saja gak mudah menjadi certifier dan untuk menjadi certifier itu banyak kualifikasi dan syarat-syarat yang harus dipenuhi.Tadi pagi-kira-kira beginilah percakapan aku (ML) dan bapak marketing (MP):MP: “Bu, udah tau berita”ML: “Berita apa?”MP: “bu IA resign loh…”ML: “hoaaaa…. kenapa?”MP: “mau konsen ngurus baby katanya”ML: *melongo*Ibu IA adalah certifier muda yang tamatan S1 ITB dan S2 di German. Kebayangkan gimana pinternya? ibu ini salah satu senior idolaku di TRID. Dulu pertama kenal, aku gak nyangka kalo ibu yang tampilannya sangat anak SMA itu adalah seorang certifier. Pergi dan pulang kantor naik sepeda lengkap dengan helm dan perangkat lainnya. Gaya berpakaiannya, celana kain, kemeja gede, dan gak ketinggalan jaketnya. Satu lagi, sama sekali no make up.Sekitar setahun yang lalu ibu IA menikah dan begitu melahirkan, aku malah mendengar kabar resignnya. Dan alasan resignnya itu hanya karena mau fokus ngurus anak. Beberapa saat aku berpikir, kalau begitu ngapain dulu sekolah tinggi-tinggi, kejar jabatan tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya jadi IRT juga?Ibu IA adalah salah satu contohnya. Saudara-saudaraku juga banyak yang seperti itu, sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya di dapur juga… hehehe…. Itu salah satu alasan aku menolak tawaran si mama untuk ambil S2. Itu juga alasan aku dulu menolak tawaran salah satu senior manager disini untuk mendapatkan jabatan yang lebih baik. Udah nyaman dengan keadaan yang seperti ini.

  2. Nurutku ya din, walo katanya ‘ujung2nya dapur, kasur n sumur’ perempuan tetep kudu pinter din. Jadi kalo ‘ada sesuatu’ dg pasangannya, dia bisa mandiri, plg ga menopang hidupnya sendiri. πŸ˜‰

  3. saya menghargai keputusan ibu IA. toh ada kebebasan berpendapat dan hak memilih :)cuma saya enggak setuju dengan kalimat “Beberapa saat aku berpikir, kalau begitu ngapain dulu sekolah tinggi-tinggi, kejar jabatan tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya jadi IRT juga?”kenapa, karena mencari ilmu adalah kewajiban bagi muslim sejak dalam buaian hingga ke liang lahat, baik formal maupun non formal. disamping itu seorang ibu atau orang tua juga harus pintar supaya bisa mendidik anak jadi pintar πŸ™‚

  4. hebat, salut untuk Ibu IAJustru dengan sekolah tinggi2 itu untuk mendirikan madrasah di rumahnya, MbakSaya yang nggak sekolah malah salut dan kagum sama Bu IA dan nggak berpikir menanyakan soalan, “Beberapa saat aku berpikir, kalau begitu ngapain dulu sekolah tinggi-tinggi, kejar jabatan tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya jadi IRT juga?”

  5. depingacygacy said: Nurutku ya din, walo katanya ‘ujung2nya dapur, kasur n sumur’ perempuan tetep kudu pinter din. Jadi kalo ‘ada sesuatu’ dg pasangannya, dia bisa mandiri, plg ga menopang hidupnya sendiri. πŸ˜‰

    setuju….

  6. fickleboon said: serba salah sih yah, kalo kerja aja, takutnya rumah tangga gak keurus, palagi kalo udah punya anak. kalo di rumah aja, kesian udah sekolah tinggi-tinggi hihihih…

    kalo udah sekolah tinggi2 harusnya bisa ya menyeimbangkan antara rumah tangga dan kerjaan.

  7. jampang said: saya menghargai keputusan ibu IA. toh ada kebebasan berpendapat dan hak memilih :)cuma saya enggak setuju dengan kalimat “Beberapa saat aku berpikir, kalau begitu ngapain dulu sekolah tinggi-tinggi, kejar jabatan tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya jadi IRT juga?”kenapa, karena mencari ilmu adalah kewajiban bagi muslim sejak dalam buaian hingga ke liang lahat, baik formal maupun non formal. disamping itu seorang ibu atau orang tua juga harus pintar supaya bisa mendidik anak jadi pintar πŸ™‚

    bener…. waktu kejar sekolah dan jabatan yg tinggi2 itu pasti banyak yang dikorbankan. Dan sekarang saat dia memilih jadi IRT, itu juga pengorbanan yg lebih besar dan pastinya ada imbalan dari pengorbanan itu. Dia pasti punya cita2 yang lebih tinggi buat anak2nya kelak….Thanks buat komennya, akhirnya dapet pencerahan… Tadinya gak habis pikir kenapa bu IA pilih resign πŸ™‚

  8. saya pernah dapet cerita, tentang seorang Ibu yang pekerjaannya ‘hanya’ seorang IRT, tapi dia senang sekali belajar (kuliah)jadi, beliau adalah seorang IRT yang juga mahasiswa :))

  9. anazkia said: hebat, salut untuk Ibu IAJustru dengan sekolah tinggi2 itu untuk mendirikan madrasah di rumahnya, MbakSaya yang nggak sekolah malah salut dan kagum sama Bu IA dan nggak berpikir menanyakan soalan, “Beberapa saat aku berpikir, kalau begitu ngapain dulu sekolah tinggi-tinggi, kejar jabatan tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya jadi IRT juga?”

    ikut salut sama bu IA jugaaaaaa….. hehehehe….

  10. andiahzahroh said: saya pernah dapet cerita, tentang seorang Ibu yang pekerjaannya ‘hanya’ seorang IRT, tapi dia senang sekali belajar (kuliah)jadi, beliau adalah seorang IRT yang juga mahasiswa :))

    aih, ibu2 hobi kuliah…. lucuuuu kaliii….. :))

  11. museliem said: Baguslah med, klo ko jadi IRT, orang2 kantor pasti pada sujus syukur… πŸ™‚

    hahaha… ia, bu IA ini terkenal paling teliti. Jadi auditor agak2 sering dibuat pusing….

  12. saya S2 dan baru brenti kerja, gpp kok balik kedapur, ngurus anak, malah lebih puas, krn hanya terikat oleh kewajiban menjadi ibu dan istri.skrg niat utnk homeschooling buat si kecil, jd tidak ada yg salah dg pendidikan tinggi, krn msh akan selalu berguna Selamat yaa dah lulus QN πŸ˜€

  13. hore medi dah lolos…. udah dikasih toga pink belum sama mba niez?komen tulisan: menuntut ilmu itu keharusan.. tapi ingin menjadi ibu rumah tangga to’ atau istilahnya full time mom atau wanita pekerja itu pilihan…… salut buat ibu IA, jarang2 ada yang mempunyai keputusan berhenti dari pekerjaan pada saat sedang nikmat2nya berkarir πŸ™‚

  14. Memed………………buat aku kurang setuju sih sama pendapat “kalau begitu ngapain dulu sekolah tinggi-tinggi, kejar jabatan tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya jadi IRT juga”Soalnya menurut aku pendidikan itu pentingjustru jika ibunya berpendidikan bagus maka dia akan mendidik anak-anaknya dengan lebih baikwawasannya lebih terbuka dan rasanya keputusan menjadi IRT setelah sekolah tinggi itu patut diacungi jempol deh πŸ™‚

  15. gue gatau deh pendidikan gue termasuk tinggi atau engga, tapi gue pikir ibu rumah tanggapun juga perlu sekolah setinggi2nya sih… jangankan kudu ‘ngerti cara mendidik anak… masalah dapur aja kudu ngerti ilmu fisika, kimia, biologi, matematika alias semua ilmu pengetahuan dasar sains, supaya efisien dalam mengolah makanan… artinya semakin efisien ibu memasak tentu bisa menghemat waktu, biaya dan tenaga…kalo sampe sekarang gue belum jadi full time mom, it’s just a matter of gue belom punya anak aja, insya Allah niatnya sih kalo punya anak di rumah aja, tapi tetep yeeee gue bakal ajak anak gue jalan2 berkelana sebelom 2 tahun umurnya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s