Kartu Lebaran

Biar teknologi sudah secanggih apapun, kantor kami masih menganut tradisi mengirim-ngirim kartu lebaran. Bagaimana dengan kalian? Beberapa hari ini aku disibukkan menyusun list siapa-siapa saja yang akan dikirimi kartu lebaran, pekerjaan yang sudah kukerjakan di 3 tahun terakhir. Dan yang menjadi masalah adalah design kartu lebaran jaman sekarang gak seunik dan selucu dulu. Dari tahun ke tahun modelnya gitu-gitu aja. Sepertinya semua kartu lebaran yang dijual itu adalah satu percetakan. Jadi besar kemungkinan dari tahun ke tahun si klien mendapat kartu lebaran dengan design yang sama.

Jadi ingat dulu jaman sekolah. Setiap mau memasuki lebaran kami disibukkan dengan saling kirim mengirim kartu lebaran. Aku dan kakak-kakakku selalu membujuk-bujuk si papa agar membelikan kartu lebaran saat kami melihat tumpukan kartu lebaran di supermarket. Dibelikan? nggak… nggak sama sekali. “Gak ada budget buat belanja-belanja yang gak penting”, kata si papa.

Untungnya kami adalah anak-anak manis yang sangat kreatif… hhohohoho… Kami membuat kartu lebaran sendiri dari bahan-bahan murah dan mudah di dapat.

Bahan utama adalah kertas karton ubi. Gak pake karton biasa karena karton ubi lebih tebal jadi gak akan kusut atau melengkung kesana kemari. hiasan yang digunakan biasanya macem-macem. Kertas manila/kertas origami, spidol warna-warni, kertas kardus bagian dalam yang bertuknya bergelombang, dan kertas koran di daur ulang. Tinggal berkreasi sesuka hati.

Yang paling istimewa adalah kertas koran daur ulang. Caranya, kertas koran dan air di blender hingga menjadi bubur koran. Tuangkan merata ke talam. Press bubur dengan menggunakan kain dan angkat air dengan spons. Setelah air habis, tinggal keringkan di panas matahari untuk mengilangkan lembab. setelah kering menjadi kertas, pisahkan dari talam dan gunting-gunting sesuai kreasi.

Widiiihhh….. gak nyangka kalo dari kecil udah kelihatan pinternya…. hihihihi….

Advertisements

20 thoughts on “Kartu Lebaran

  1. museliem said: Iya… mending pake kartu.. suka sama kartu yang klo dibuka keluar miniatur masjid dan lain2 itu….Tapi klo pake kartu bukannya ga “Go Green” ya?

    ia, trus ada lampu-lampunya dan ada nyanyi selamat lebaran…tapi pake kartu lebih bermakna….

  2. julianawa said: Dulu aku juga suka kirim2 kartu. Sekarang pake yg praktis aja lah..

    ia… sms emang praktis sih… tapi belakangan aku malah males dengan sms kek gituan…sms menyambut puasa kemaren ajaaaaa…. gak dibalesin… hehehehe….

  3. Wah,kantorku juga tuh.Tapi disertai parcel/bingkisan hehe..Gw terakhir kirim kartu lebaran kapan yak.SMP x yak pas belum punya HP.Ck..ck..ga nyangka kalo dari kecil kamu dah keliatan menderitanya,Med hahaha…*kaboorrr…

  4. kalo aku ngirim ‘foto’ sebagai kartu keluarga. aku kirimkan foto yg belakangnya kutulis ucapan lebaran. fotonya tergantung siapa yg dikirim,yg pasti biasanya karena ada momen bersama mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s